SRENGÈNGÈ MLÊTHÈK

SRENGÈNGÈ MLÊTHÈK
MUMBULING SURYÅ ILANGING SAMBÈKÅLÅ [2010]

GOOGLE TRANSLATE

Selasa, 09 September 2014

Gua Maria Nusakambangan - Cilacap



Dua jam menyusuri Segara Anakan dengan naik kapal tempel yang sanggup memuat 15 orang ini, terasa mengasyikkan. Apalagi hutan bakau di tepi teluk pun bisa menjadi pemandangan alam tersendiri sebelum mata menembus 4 lokasi bui Nusakambangan nun jauh di sana. Menurut Pak Jono (lengkapnya Bapak FX Soedjana) yang menjadi pemandu para peziarah, dahulu ada 9 Lembaga Pemasyarakatan (LP). Namun, sejak 1986 tinggal 4, yaitu LP Batu, Besi, Kembang Kuning, dan Permisan.

Menurut Pak Jono, ramainya peziarahan ke Gua Maria Nusakambangan ini tak luput dari pertemuan beberapa ide yang bisa sinkron. Awalnya adalah gagasan dari Mantan Bupati Cilacap, Bapak Hery Tabri Karta, SH yang sebelum menjabat sebagai Bupati pernah dinas sebagai kopasus di Nusakambangan. Ia pada Februari 2002 meminta agar camat pembantu Klaces menyelidiki kemungkinan pengembangan wilayah Nusakambangan sebagai wisata bahari. Sebagai orang yang tahu persis lokasi Nusakambangan, Bapak Hery Tabri Karta, SH merasa sayang kalau Cilacap hanya terkenal dengan Teluk Penyu saja.
Ide lain dari Motehan atau Ujung Alam. Terbetik berita bahwa Bapak Darmono, seorang pemeluk aliran kepercayaan, yang menjadi salah satu penduduk asli desa Ujung Alam bermimpi. Dalam mimpinya ia ditampaki oleh kakeknya yang asli Nusakambangan. Kakek dari Pak Darmono itu berpesan agar Darmono merawat ibunya yang ada di gua Klaces. Oleh Darmono hal itu diartikan sebagai wasiat untuk memelihara makam leluhurnya. Namun, di gua Klaces tidak ditemukan adanya makam.

Dua hal itu sampai ke telinga Bapak Uskup Purwokerto, Mgr. Julius Sunarka, SJ. Dari situlah Bapak Uskup dengan pertimbangan tertentu meminta Romo Julius Puja Sudaryatno Pr. yang bekerja di Stasi Sidareja, Cilacap mencari sisik-melik tentang gua-gua yang ada di Klaces.
Demikianlah pada bulan Februari 2002 selama 3 hari, Rm. Puja bersama Tim yang terdiri dari warga masyarakat setempat mengadakan penyelidikan dari gua yang satu ke gua yang lain. Maklum di Klaces ini ada begitu banyak gua yang satu sama lain terhubung dengan sungai. Warga yang ikut dalam tim pencarian itu adalah Bapak Miarta (Kepala Desa Klaces), Bapak Sukadi, Bapak Slamet, Bapak Amad, Bapak Drs. Rui Munis, Junedi, Sunarya, Jana, dan Bapak Satmaka (mantan Camat).


Jalan Salib 

Mulut Gua

Diduga Tempat Sembahyang Belanda
Menurut pengakuan Sukadi yang menjadi salah satu anggota tim penyelidik, ia menemukan besi berupa salib di gua Bendung (menurut warga Klaces) atau gua Macan (menurut warga Nusakambangan). Namun, entah mengapa sekarang benda itu tak ditemukan lagi di dalam gua tersebut. Dari situlah dan didukung oleh “ornamen” di dalam gua, seperti patung Bunda Maria yang sedang menggendong kanak-kanak Yesus yang terbentuk dari stalaktit-stalakmit, relief keluarga kudus pada dinding gua, perjamuan terakhir, 3 butiran awal dalam rosario, pedang Santo Hadrianus dan rumah pusakanya, diduga bahwa pada zaman Belanda gua itu digunakan untuk berdoa. Sebab, juga ditemukan jejak seperti bekas altar. Di dalam gua juga terdapat sendang tempat peziarah bisa mengambil air suci yang bersih dan siap diminum.

Menumbuhkan Harapan Masyarakat
Sampai di Klaces, peziarah akan menemukan pos penjagaan marinir. Rupanya setiap tamu yang datang memang harus lapor dahulu ke pos penjagaan marinir itu. Untuk sampai ke Gua Maria, peziarah bisa memilih: mau naik ojek atau jalan kaki. Sebelumnya Pak Jono sudah memberi tahu kalau mau jalan kaki boleh, yaitu sepanjang 4 km menyusuri jalan setapak yang naik turun. Mau naik ojek juga silakan. Tarifnya, naik (= berangkat) Rp 15.000,-, sedangkan turun (pulang) Rp 10.000,- Diakui oleh Sukadi maupun Pak Jono bahwa dengan adanya peziarahan Gua Maria ini memberi harapan baru bagi warga Klaces. Mereka merasa bisa meningkatkan penghasilan mereka. Secara kuantitatif saja, kini jumlah sepeda motor untuk mengojek sudah meningkat menjadi 26 dari sebelumnya hanya 8 kendaraan. Bahkan, masih menurut Sukadi, kalau pas ramai tak segan-segan penduduk setempat menyewa sepeda motor demi melayani para peziarah.


Rosario

Gua Sendang

Sementara ibu-ibu PKK Klaces siap melayani rombongan peziarah untuk menyediakan konsumsinya. Hal ini dimaksudkan agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial bila peziarah jajan sendiri-sendiri di warung penduduk. Namun, kalau kelapa muda yang memang banyak tersedia di Klaces bisa dibeli tanpa harus lewat organisasi.

Tidak Ada Kristenisasi
Diakui sendiri oleh warga setempat bahwa tidak benar tuduhan sementara pihak bahwa dengan adanya Gua Maria ini warga akan dikatolikkan atau dikristenkan. Sebab, di Klaces sendiri yang Katolik bisa dihitung dengan jari. Itu pun adalah pendatang, entah sebagai pegawai Pemda atau pun guru. Dan, yang tak kalah menariknya adalah fenomena akan hangatnya sambutan masyarakat setempat. Sambutan hangat itu tidak hanya di bibir namun juga diwujudkan oleh kepedulian warga setempat yang diwakili oleh para tukang ojek. Mereka setiap Jumat, setelah selesai menjalankan shalat Jumat, mengadakan kerja bakti di sekitar Gua. Pelaksanaan kerja bakti dikoordinasi langsung oleh Bapak Slamet yang menjadi Kadus (Kepala Dusun) setempat.

Bisa Petromaks, Bisa Diesel
Peziarah atau pemimpin rombongan biasanya sebelum sampai di gua, lebih dahulu diajak mampir ke rumah Pak Darmo, yang menjadi juru kunci Gua Maria. Rumahnya sangat sederhana. Pak Darmo, pria setengah baya dengan badan tegap siap menghantar peziarah dalam jumlah kecil cukup dengan membawa 2 lampu petromaks. Namun, kalau rombongan berjumlah besar, Panitia menyediakan diesel untuk penerangan di dalam gua.
Sebelum masuk gua peziarah harus menunggu lebih dahulu Pak Darmo untuk menyalakan petromaks. Di dekat pintu masuk gua ada WC dan sumur baru. Pak Jono menuturkan bahwa untuk membuat WC dan sumur yang “hanya” seperti itu saja butuh dana tak kurang dari Rp 3.000.000,- (tiga juta rupiah). “Hal itu tak lain karena mahalnya transportasi untuk mendatangkan material ke lokasi. Itu pun sudah dengan bantuan petugas Nusakambangan,” tambah Pak Jono. “Sedangkan, tempat penjualan ini merupakan sumbangan dari seorang donatur dari Jakarta yang tak mau disebut namanya,” terangnya pula.
Gua yang dari luar hanya tampak sebesar lubang yang tak sampai 1,5 meter diameternya itu, ternyata di dalamnya cukup luas. Di dalam gua, peziarah akan terkesima melihat keelokan patung Bunda Maria yang sedang menggendong kanak Yesus. Bukan karena hasil pahatan tangan manusia, namun oleh “pahatan” alam lewat proses pertemuan stalaktit dan stalakmit. Bapak Uskup Purwokerto menambahkan, “Kalau toh mata badani ini tidak bisa menangkap hal itu sebagai patung Bunda Maria yang menggendong kanak-kanak Yesus, yang lebih penting mata batin kita menangkap bahwa di sini hadir Bunda Maria bersama dengan Yesus Sang Putera yang siap mendengarkan doa-doa kita.” Hal itu dikatakan Bapak Uskup ketika meninjau dan memberkati tempat peziarahan tersebut 16 Mei 2002. “Patung” itu akan relatif jelas bila dipandang dari samping kanan, sehingga tampak Bunda Maria yang menatap anggun, seolah ke masa depan yang ceria berkat jasa penyelamatan yang dibawa Sang Juru Selamat yang ada dalam gendongannya.
Di dalam gua juga ada sungai (Jw. kali asat) kering. Sungai itu menghubungkan gua yang satu dengan lainnya. Sebab, seperti dituturkan Pak Jono di Nusakambangan ini tak kurang ada 9 gua yang semuanya terhubung dengan ‘kali asat’ itu. Dan, pada Mei 2003 yang lalu Panitia Pengembangan Gua Maria Nusakambangan juga telah mengganti jembatan lama yang sudah lapuk.


Perlu Dana untuk Pemeliharaan dan Pengembangan 
Rupanya Panitia Pengembangan Gua Maria Nusakambangan ini memang butuh dana tidak sedikit untuk pemeliharaan maupun pengembangan Gua Maria ini. Apalagi bagian atas gua tersebut sudah gundul sehingga dinding-dinding gua yang semula putih bak kristal kini tampak mulai mencoklat. Barangkali disebabkan oleh rembesan air bercampur tanah. Rupanya perlu dana dan kerja keras untuk reboisasi bagian atas gua. Meskipun lokasi ini merupakan milik Departemen Kehakiman, kiranya tidak perlu menyurutkan kemauan baik kita untuk ikut memelihara tempat ziarah yang unik, antik, dan asri ini. Itu sebabnya Panitia Pengembangan Gua Maria Nusakambangan juga membuka rekening bagi siapa saja yang tergerak untuk membantu dana pemeliharaan dan pengembangannya. Silakan transfer ke Panitia Pengembangan Gua Maria Nusakambangan, Rekening BCA Cab. Cilacap, nomor 096.035.6446, atas nama Romo Agung Pralebda, Pr./H. Suwardi.

Cukup Luas untuk Doa Bersama
Di dalam gua itu peziarah memang bisa mengadakan renungan, doa bersama atau pun merayakan Ekaristi. Saat festival Maria bulan Mei yang lalu ratusan peziarah juga merayakan Ekaristi bersama Bapak Uskup di tempat ini. Dan, secara alami pun gua ini menyediakan bahan-bahan renungan. Misalnya, relief keluarga kudus, bisa dimanfaatkan untuk renungan tentang keluarga kristiani, entah dengan tema keluarga retak masyarakat rusak, atau sekadar untuk membarui janji nikah. Demikian pun di depan patung perjamuan terakhir bisa kita renungkan tentang penghayatan kita akan Ekaristi dalam keseharian hidup kita. Bahkan, patung satwa yang ada di gua itu juga bisa kita manfaatkan untuk renungan tentang keajaiban karya ciptaan Tuhan dan panggilan manusia untuk memelihara dunia ciptaan ini yang akhir-akhir ini dirusakkan oleh aneka polusi dan sejumlah tindakan yang tak bertanggungjawab. Pedang Santo Hadrianus beserta rumah pusakanya bisa dimanfaatkan untuk merenungkan makna kemartiran di dunia dewasa ini yang tampaknya semakin pudar. Mungkin dengan dalih maunya menggarami dunia, namun jadinya malah dunia yang menggarami kita. Dengan kata lain, kita menjadi larut dan hanyut dalam semangat dunia.

Satu-satunya yang Unik Alami
Kalau Patung Bunda Maria ini sungguh dipelihara beserta gua dengan segala kekayaan ornamen sucinya itu, gua Maria ini bisa menjadi The Only One, satu-satunya gua Maria yang unik dan alami. Peziarah biasanya akan bertanya-tanya pada awalnya, mengapa lubang guanya cuma segitu, cuma nyumplik layaknya sarang macan. Itu sebabnya penduduk Nusakambangan menyebutnya sebagai Gua Macan. Sedangkan penduduk Klaces menyebutnya sebagai gua bendung, sebab di dalamnya ada sungai yang terbendung. Kemudian, yang membuat terkesima adalah patung Bunda Maria. Sebab, peziarah umumnya sudah terlanjur akrab dengan patung Maria yang konvensional, yang biasanya merupakan hasil pahatan manusia. Sementara, kini yang tampak di depan mata adalah “patung” Bunda Maria hasil pahatan alam. Fantastik! Lebih-lebih tidak hanya patung Bunda Maria yang ada di dalamnya, namun juga patung dan relief suci lainnya.

Perjamuan Terakhir 

Satwa

Akhirnya, merupakan tantangan kita semua, bagaimana memelihara dan mengembangkan tempat suci yang elok ini tanpa meninggalkan unsur dan sifat naturalnya seperti dipesankan Bapak Uskup Purwokerto. “Kesan dan sifat alami itu harus semaksimal mungkin dipertahankan agar warna dan suasana ziarah tetap terpelihara,” ungkap Bapak Uskup seperti ditirukan oleh Pak Jono. Dan yang serius tentu adalah masalah mengatasi tanah di atas gua yang sudah gundul. Sejauh mana masih bisa ditumbuhkan kembali lewat program reboisasi, agar tanah di atasnya tidak semakin tererosi dan mengotori dinding-dinding gua dengan segala keelokan yang ada di dalamnya.

Doa kepada Bunda Penolong Abadi
Bunda Penolong Abadi, Engkau yang terberkati yang dikasihi Allah. Engkau tidak hanya menjadi Bunda Penebus, tetapi juga menjadi Bunda kami yang ditebus-Nya. Kami bersujud di hadapanmu sebagai anak-anak yang kaukasihi. Jagalah dan peliharalah selalu diri kami. Sebagaimana engkau lakukan terhadap Puteramu, demikian jugalah hendaknya terhadap kami. Jadilah engkau Bunda kami yang setiap saat sudi menolong kami. Karena Allah yang mahakuasa telah melakukan hal-hal besar bagimu dan belaskasih-Nya dari zaman ke zaman berlaku bagi mereka yang mencintai-Nya. Ketakutan kami yang paling dalam ialah kalau di masa pencobaan ini kami gagal menyerukan namamu dan kami menjadi anak yang hilang. Bila kami menghadapi situasi seperti itu, ya Bunda, bergegaslah datang, ya Bunda terkasih, untuk mencurahkan belaskasihan dan ampunanmu bagi dosa-dosa kami agar kami sanggup mencintai Yesus Puteramu yang menjadi penyalur segala rahmat kini dan sepanjang masa. Amin.


Rute Perjalanan:

  • Dari arah Yogyakarta Anda mengambil jalur Selatan ke arah Banyumas. Sesampainya di Buntu belok ke kiri ke arah Cilacap, kemudian menuju ke Sleko, dan kapal akan siap menghantar Anda ke Ds. Klaces. Dari Klaces Anda akan dihantar ke lokasi Gua Maria dengan naik ojek atau jalan kaki 4 km.
  • Dari Semarang Anda lewat Purbalingga - Sokaraja - Banyumas lalu Buntu, terus ke Cilacap. Selanjutnya seperti no. 1.
  • Dari Jakarta - Purwokerto -Sokaraja - Banyumas - Buntu - Cilacap dan selanjutnya seperti no. 1 Atau: Jakarta - Cirebon - Ajibarang - Wangon - Cilacap dan selanjutnya seperti no. 1.


Informasi: 
Ibu Dra. Christina Sriwahyuni, Apt.,
Ketua Panitia Pengembangan Gua Maria Nusakambangan,
Jl. Gatot Subroto 35 A, Cilacap, Jawa Tengah.
Telp. (0282) 533018 atau HP. 08122724540.

http://www.guamaria.info/ziarah-kemana/14-lokasi-gm-jateng/87-gua-maria-nusakambangan-cilacap




Ziarah ke Gua Maria di Pulau Nusakambangan

Kisah Peziarah

Ziarah ke gua Maria di pulau Nusa Kambangan 

Bulan Mei dikenal umat Katolik sebagai bulan Maria. Dalam bulan ini banyak umat yang melakukan ziarah, secara perorangan maupun rombongan, semisal ke Sendangsono di Jawa Tengah. Ada banyak tempat ziarah di negeri kita ini, tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan NTT, salah satu diantaranya di Pulau Nusa Kambangan.


Siapa di antara Anda yang tidak mengenal P. Nusa Kambangan yang sejak zaman dahulu terkenal dengan rumah penjara para terpidana kelas berat ? Hotel ”prodeo” untuk para penjahat terpidana ini dibangun sejak era penjajahan Belanda dahulu. Tetapi janganlah Anda mengasosiasikan P. Nusa Kambangan dengan keseraman rumah penjara melulu. Ada sisi lain yang cukup menarik dan menggelitik untuk dilirik dan ditilik, khususnya untuk kita segenap umat Katolik.


Tidak disangka di bagian barat P. Nusa Kambangan, jauh sekali dari lokasi rumah-rumah penjara, terdapat gua alam yang cocok untuk dijadikan tempat ziarah. Lokasi gua termasuk dalam paroki Cilacap atau keuskupan Purwokerto. Gua Maria di P. Nusa Kambangan ini relatif masih baru, belum banyak dikenal umat Katolik seperti gua Maria lainnya, terbukti dengan masih sangat sedikit pengunjungnya. Sebenarnya gua Maria ini juga adalah peninggalan jaman Belanda dan masyarakat sekitar juga sudah lama tahu tentang keberadaan gua Maria ini tetapi anehnya justru banyak kalangan Katolik yang tidak tahu, ini mungkin karena kurangnya informasi tentang gua Maria ini akibat jauh dan cukup sulitnya transportasi untuk menuju kesana. Akibatnya baru pada tahun 2000an gua Maria ini baru dikenal orang.


Bagaimana mencapai lokasi Gua Maria di P. Nusa Kambangan ini? Berikut kami ceriterakan pengalaman kami ziarah ke gua tersebut pada awal Juni 2004 yang lalu. Ada 2 rute yang dapat dilalui, yaitu lewat Cilacap, naik perahu motor melintasi Segara Anakan selama 2 jam menuju desa Klaces,lalu jalan kaki atau lewat Pangandaran – kec. Kalipucang – dermaga Majingklak – terus naik perahu motor selama 15 menit ke P. Nusa Kambangan desa Klaces. Kemudian perjalanan diteruskan dengan jalan kaki selama 1 jam menuju gua. Karena kami berangkat dari Bandung maka kami memilih rute kedua tersebut.


Setelah menginap di Pangandaran, pagi jam 6.30 kami berangkat menuju dermaga Majingklak (50 menit dengan mobil) untuk jarak 35 km. Sesuai petunjuk teman, kami parkir di luar dermaga lalu mencari sewaan kapal motor untuk ke desa Klaces di seberang pulau sana. Tidak ada pelayaran reguler ke Klaces, maka harus sewa perahu motor pulang pergi plus tunggu 3–4 jam selama ziarah. Berapa ongkos sewa perahu motor itu tergantung banyaknya calon penumpang. Satu perahu dengan kapasitas 15 orang ditawarkan ongkos 100 ribu, tapi harga tersebut masih dapat dinegosiasikan.


Kebanyakan tukang perahu di Majingklak ini mengenal Gua Maria di P. Nusa Kambangan. Pelayaran 15 menit melintasi Segara Anakan cukup aman dan menyenangkan karena tidak ada ombak besar seperti halnya di pantai Pangandaran. Tiba di desa Klaces kami merapat di dermaga di depan pos TNI AL dan melapor kepada petugas jaga mengenai maksud kedatangan kami untuk ziarah. Selanjutnya dimulailah safari jalan kaki ke lokasi gua. Selama 10 menit berjalan di atas paving block di desa Kampung Laut. Dahulu kampung ini benar-benar diatas laut Segara Anakan, tetapi karena proses pendangkalan kampung tersebut kini berubah menjadi daratan penuh lumpur saat laut surut dan menjadi rawa kalau laut pasang. Lepas dari jalan paving block, kami melewati jalan “aspal bambu”, yaitu anyaman di atas lumpur dengan tiang penyangga dari bambu pada tanah berlumpur, sepanjang 200 m. Selanjutnya melewati jalan setapak yang menanjak diantara alang-alang setinggi orang, kondisi jalan licin, naik turun. Untung kami pakai sepatu kets. Sepanjang jalan setapak ini tidak kami temukan kampung hanya lokasi gua.


Alternatif lain untuk mencapai lokasi gua adalah dengan naik ojek (sepeda motor), tapi jumlahnya amat terbatas. Kami datang berempat, ojek yang tersedia cuma 2 buah. Tarifnya lumayan mahal, per orang Rp. 25 ribu pp dan menunggu. Kalau Anda datang kesana berombongan jangan harap bisa menikmati fasilitas ini. Naik ojek ini ternyata cukup mendebarkan juga mengingat medan dan jalan licin seperti kami gambarkan diatas. Pengalaman istri saya kemarin saking takutnya kalau jatuh maka turun dari ojek dan memilih jalan kaki sampai 25 kali.


Mulut gua terletak pada suatu bukit dengan ketinggian sekitar 10m, naik tanpa tangga, licin lagi. Lebar mulut gua sekitar 2m dan tinggi 3m, di dalam gua gelap gulita. Untung sekali Pak Darmo (50th) dan mengaku sudah dibaptis sekeluarga, yang ditugasi menjaga gua dan sekaligus penunjuk jalan telah menyediakan 2 buah lampu petromaks, lumayan untuk penerangan di dalam gua. Harus ekstra hati-hati sewaktu masuk ke dalam gua karena jalannya menurun, licin, becek, serta agak gelap. Seperti halnya gua di tempat lain, banyak stalagtit dan stalagmit yang sungguh mempesona menghiasi ruangan gua. Bekal lampu senter sangat menolong menuruni gua dan menikmati keindahan didalam gua.


Salah satu stalagtit dan stalagmit menggambarkan bentuk seorang wanita berdiri memakai mahkota dan berjubah yang mengatupkan kedua tangannya, setinggi 4m. Hal ini mengingatkan kita pada patung Bunda Maria. Di bawah “patung” inilah biasanya peziarah berdoa dan menyalakan lilin pada meja sederhana yang tersedia. Kesunyian dan keheningan didalam gua benar-benar membuat berdoa menjadi lebih khusuk. Suatu pengalaman yang mengesankan dan tak terlupakan.


Lantai gua cukup lebar, dapat menampung sekitar 50 orang, langit-langitnya agak tinggi sehingga tidak terlalu sesak untuk bernafas. Jangan kaget ketika keluar dari dalam gua pakaian menjadi basah bukan karena keringat tetapi lantaran kena tetesan air dari langit-langit gua. Kami berada di gua sekitar satu jam. Jam 10.10 kami keluar gua dan kembali ke dermaga Klaces melalui jalan yang sama. Pengalaman ziarah yang benar-benar mengesankan dan menantang. Tertarikkah Anda dengan ziarah ini? Silahkan!

http://guamariaklaces.blogspot.com/2009/05/kisah-peziarah.html



Ditemukan Goa Maria Peninggalan Belanda di Nusakambangan

Ditemukan Goa Maria

PURWOKERTO: Ditemukan Goa Maria peninggalan Belanda di Nusakambangan.


Ditemukan sebuah Goa Maria peningalan jaman Belanda di desa Kleces, Nusakambangan, yang termasuk wilayah Keuskupan Purwokerto.
NUSAKAMBANGAN, 19 MEI 2002 (i-MIRIFICA)

Ditemukan sebuah Goa Maria peningalan jaman Belanda di desa Kleces, Nusakambangan, yang termasuk wilayah Keuskupan Purwokerto.

Kabar Goa Maria Nusakambanganini dicuatkan oleh Bapak Camat Klaces waktu berkunjung ke Romo Pujo, pastor paroki Sidareja dan minta penjajagan untuk pengembangan goa Maria itu sebagai tempat ziarah. Demikian laporan yang diterima i-MIRIFICA dari SERAYU-NET, jaringan JAKUSI Keuskupan Purwokerto.

Mgr. J. Sunarka, S.J., Uskup Purwokerto, menyempatkan diri menilik Gua Maria itu bersama rombongan keuskupan, Kamis 16 Mei yang lalu. “Aneh sekali bahwa masyarakat mayoritas sudah tahu adanya Goa Maria tinggalan Belanda, dan kita-kita orang katolik baru mendengar akhir-akhir ini,” tandas Romo P. Sigit Pramudji, Pr, Vikjen Keuskupan Purwokerto yang ikut dalam rombongan tersebut.

Berita adanya Goa Maria ini disambut masyarakat setempat, khususnya para pejabat pemerintah lokal, dengan gembira, karena diharapkan akan meningkatkan ekonomi daerah nanti kalau banyak orang katolik yang akhir-akhir ini getol berziarah akan berbondong-bondong kesana.

Kendati Gua Maria ini memberikan prospek cerah bagi pengenalan agama katolik di daerah tersebut di samping bagi pemberdayaan masyarakat setempat, Keuskupan Purwokerto perlu mempertimbangkan agar tidak terjadi komersialisasi agama dan agar proyek tersebut sungguh-sungguh memberdayakan rakyat setempat, dan bukan segelintir orang bermodal yang dengan cepat akan bisa memanfatkan tempat tourisme tersebut.

Begitu tandas Romo Vikjen, mengingat pengalaman pendirian tempat-tempat ziarah di daerah lain yang telah mengundang kritik pedas dari kalangan umat katolik sendiri, karena kurangnya transparansi dan akuntabilitas perencanaan dan pelaksanaanya.

http://guamariaklaces.blogspot.com/2009/05/purwokerto-ditemukan-goa-maria.html



Rabu, 13 Oktober 2010

Bunda Maria Ratu Kesederhanaan

Rumah Air
Rumah air

Gua alam
Gua alam

Misa
Misa

Stalakmit "patung Maria"

 Pintu gua

 Keseleo

 Seruan kesederhanaan

 Tongkat

Penjual makanan


Menutup Bulan Maria, peziarah menyampaikan seruan doa kepada Bunda Maria Ratu Kesederhanaan. Ziarah di Gua Maria Klaces tersebut juga sekaligus membuka Tahun Keprihatinan Kemiskinan.

Sekitar 500 peziarah dari berbagai tempat mengikuti kegiatan ini. Mereka datang dengan perahu compreng dan perahu yang lebih kecil.

Umat-umat sederhana ini berjuang untuk melewati jalanan yang licin dari Klaces menuju lokasi Gua Maria.

Kehadiran para peziarah menjadi berkat bagi masyarakat sekitar. Termasuk anak-anak yang menyediakan tongkat untuk membantu jalan. Juga para penjual kelapa muda.

Gua Maria Klaces merupakan gua alam. Stalaktit dan stalakmit alam menghiasi ruangan yang luas tersebut.

Sulitnya medan, karena malam sebelumnya diguyur hujan, membuat seorang ibu peziarah terjatuh dan mengakibatkan lengannya keseleo. Romo Carli OMI menyempatkan mendoakan ibu tersebut.

Jejak-jejak air kawasan Klaces sebagai daerah pemukiman di atas air masih terlihat. Sebuah rumah dikelilingi perairan seperti dalam gambar.

 teks-foto: tri




FOTO GUA MARIA KLACES

Gua Santa Maria Nusakambangan - Ds. Klaces, Kec.Pembantu Kampung Laut, Cilacap.
Sekretariat : Jl. Gatot Subroto 35A, Cilacap.

Rute: 1. Majingklak ~ pelayaran Majingklak - Klaces 20 menit. Banjar - Majingklak (Kalipucang) 45 km, Majingklak-Pangandaran = 25 km.

Rute: 2. Sleko-Cilacap ~ pelayaran Sleko - Klaces 2 jam.












http://guamariaklaces.blogspot.com/2010/04/foto-foto-gua-maria-klaces.html




GOA BENDUNG PENINGGALAN KUNO


Peta Jaringan Trayek Angkutan Perairan di Kabupaten Cilacap


Pintu Masuk Gua Maria

Goa Bendung ditemukan oleh penjajah Belanda pada sekitar abad ke 16 konon pernah di gunakan sebagai tempat ibadah umat Kristiani pada saat Belanda menduduki Pulau Jawa termasuk Pulau Nusakambangan.
Untuk mencapai goa tersebut dapat melalui Pelabuhan Lomanis atau Pelabuhan Sleko dengan naik perahu atau compreng dengan menelusuri sungai dan selat Segara Anakan menuju goa atau Desa Klaces . Dari Klaces kemudian berjalan kaki selama kurang lebih satu jam menuju ke arah goa atau dapat melalui Dermaga Sodong dengan naik kendaraan roda dua atau angkutan lainnya melalui jalan darat sambil menikmati keindahan alam dan hutan serta bangunan lembaga pemasyarakatan menuju Goa Bendung sekitar 45 menit.
Goa Bendung yang ditemukan Belanda tanpa sengaja ketika penjajah Belanda meluaskan jajahannya di tanah jawa termasuk Pulau Nusakambangan mempunyai lorong sepanjang kurang lebih 150 meter dengan lebar 10 meter, didalam goa tersebut terdapat stalakmit yang menyerupai anjing dan seorang perempuan yang sedang menyusui. Karena didalamnya terdapat tempat khotbah dan stalakmit yang bentuknya seperti Bunda Maria, sehingga ada sebagian masyarakat yang menyebut Goa Maria, juga di dalamnya terdapat parit yang dibangun oleh Belanda yang galian tanahnya untuk membendung badan parit yang luas seperti pelataran dan digunakan untuk para jemaat untuk melakukan ibadah, karena pelataran yang digunakan untuk membendung air tersebut maka goa ini dikalangan masyarakat disebut Goa Bendung.

Pintu Masuk Gua Maria setinggi ±1,5 m

http://janakapandhawa5.blog.uns.ac.id/lokasi-wisata/
http://perpusdacilacap.blogspot.com/2012/07/potensi-wisata-kabupaten-cilaca.html
http://nusapedia.com/Cilacap/ID/place/494/wisata-bersejarah-di-goa-bendung
http://www.indonesia-heritage.net/2013/09/gua-maria-atau-goa-bendung-cilacap/
http://pinmagicaljourney.blogspot.com/2012/05/ziarah-ke-gua-maria-klaces-bendung.html
http://guamariaklaces.blogspot.com/2009/05/goa-bendung-ditemukan-oleh-penjajah.html





PEZIARAH DARI PAROKI CENGKARENG - JAKARTA

Kijang merah itu melaju menuju Gereja Bernadus Kawunganten - Cilacap, karena menghampiri Rm. Nicolaus Ola, OMI yang akan memimpin Misa di Gua Maria Klaces. Pukul 07.00 Kijang sampai di Gereja Kawunganten terus langsung cabut ke Majingklak karena kita janjian dengan rombongan jam 08.00 WIB. Puji Tuhan jam 08.10 kita sudah sampai di sana.Terus kita mencari sewa perahu. ternyata para tukang perahu memberi tarif PP Rp. 200.000 dan harus pakai 3 perahu. Kami menawar tapi hanya dapat Rp. 170.000, yah...padahal anggaran kita 200.000 untuk 2 kapal. Dari pada bersitegang akhirnya kami terpaksa menyetujui. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Klaces kira-kira yang jaraknya 30 menit naik perahu.

Jam 09.30 kita sampai di Klaces, setelah buang air kecil rame-rame, kita rame-rame berjalan menuju Gua Klaces meskipun banyak ojek yang menawari para peziarah tapi iman mereka tidak goyah he he he...O iya kalo naik ojek PP Rp. 25.000,- tapi jalannya naik turun, uji nyali pokoknya. Tapi mereka udah terampil dalam berojek ria. Perjalanan di tempuh kira2 1,5 jam dengan medan yang cukup menantang, apalagi kalo hujan tanah jadi becek dan licin. Sampai di Gua Maria Klaces jam 10.30 WIB dan istirahat sebentar terus dilanjutkan Misa di dalam Gua. Dengan penerangan lampu genset dan dgn kaki yang pegal2 kami bersatu dalam Misa yang di pimpin Rm.Nico Ola,OMI. Kira2 jam 12.30 misa selesai dan diringi hujan yang mulai reda kami memulai perjalanan pulang ke dermaga klaces untuk makan siang di Cafe Klaces. Selesai makan kami langsung berangkat naik perahu ke Majingklak terus kami berpisah dengan rombongan yang menuju pengandaran dan kami meneruskan perjalanan
pulang ke Cilacap. Sampai di sini kami menjadi team pemandu ziarah. Semoga ziarah ini menambah iman kita semua. (team ziarah klaces)

http://guamariaklaces.blogspot.com/2009/05/peziarah-dari-paroki-cengkareng-jakarta.html